Translate

3.07.2015

>> LUKISAN PRASEJARAH DUNIA DAN INDONESIA


" Lukisan Sapi di Goa Lascaux, Dordogne, Perancis "

Karya seni telah dikenal oleh manusia jauh sebelum peradaban manusia modern terlahir, berjuta - juta tahun yang lalu manusia purba telah mengenal karya seni, bukti ilmiah dari karya seni prasejarah telah ditemukan umumnya pada dinding Goa atau tembok tebing yang dibuat oleh orang-orang purba sebagai medium untuk menyampaikan pesan atau catatan-catatan peristiwa. Bentuk visual yang terdapat di dinding-dinding goa sebagai alat komunikasi antar manusia zaman dahulu.
Beberapa bukti penemuan karya seni buatan manusi purba, antara lain adalah Lukisan goa yang ditemukan di goa El Castillo Cantabria - Spanyol, Lukisan gua dan ceruk di Indonesia  ada di Sulawesi Selatan, Sulawedi Tenggara, Kokas - Papua dan Maluku.

Tema - tema lukisan purba yang terdapat pada Goa - goa dan dinding tebing bertemaa cap tangan, hewan, manusia, dan semua memiliki makna sebagai bahasa komunikasi dalam kehidupan mereka sehari-hari.  Namun juga ada yang lebih sakral yaitu berhubungan dengan keyakinan atau religi, sebagaimana tujuan pembuatan lukisan religi ini ada kaitannya dengan kepercayaan mereka yang bersifat religius. Artinya, karya seni tersebut dibuat tidak terkait langsung dengan tujuan artistik ( menambah keindahan suatu objek yang dilukis ), tetapi suatu usaha untuk dapat berkomunikasi dengan kekuatan supranatural.

Oleh karena itu, para peneliti memperkirakan bahwa ide melukis dinding gua pada awalnya merupakan suatu permohonan kepada kekuatan tertentu agar apa yang dikehendaki dapat tercapai, sesuai dengan apa yang dilukis. Mengenai lukisan cap tangan itu sendiri, seorang ahli purbakala Van Heekeren  mengatakan bahwa lukisan itu ada hubungannya dengan upacara kematian dan kehidupan di alam lain (kehidupan setelah mati). Lebih jauh, Van Heekeren , dengan menggunakan studi etnoarchaelogy, mengaitkan antara cap tangan dan religi. Ia menyatakan bahwa cap tangan menggambarkan suatu perjalanan arwah yang telah meninggal yang sedang meraba-raba menuju ke alam arwah.

Selain itu, cap tangan juga merupakan suatu tanda bela sungkawa dari orang-orang yang dekat dengan yang mati. Umumnya lukisan yang ada di dinding gua-gua yang terdapat di Sulawesi Selatan berada pada tempat yang sulit dijangkau oleh tangan manusia (mendekati atap gua), sebagaimana yang terdapat di gua Leang-leang (Kabupaten Maros) dan gua Garunggung (Kabupaten Pangkep).

Semua yang digambarkan dalam lukisan gua pada masa prasejarah merupakan sebuah bentuk refleksi dari kehidupan yang di jalani pada masanya. Kehidupan manusia purba selalu tergantung pada alam dan alam merupakan tempat bagi mereka untuk menggantungkan hidup. Gua sebagai tempat mereka berteduh dan beristirahat atau sebagai tempat tinggal , dan salah satu tempat untuk mengekpresikan perjalanan hidup.

Lukisan pada dinding Goa dan tebing merupakan sebuah perwakilan kata-kata manusia pada masa itu yang ingin disampaikan kepada segenap masyarakatnya dan akhirnya menjadi bukti bagi manusia sekarang untuk mempelajarinya sekaligus merupakan inspirasi bagi seniman-seniman lukis untuk membuat sebuah karya lukisan dalam bentuk dan bahan yang berbeda.


Author Heno Airlangga
JAVADESINDO Art Gallery 
Galeri online khusus lukisan berkelas

>> BIOGRAFI PELUKIS MAESTRO INDONESIA " AFFANDI "


Affandi Koesoema lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1907 dan meninggal pada tanggal 23 Mei 1990. Beliau adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, dan bahkan merupakan pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang sangat produktif, dimana Affandi telah berkarya menciptakan lebih dari dua ribu lukisan.

Affandi adalah putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri.
Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar, sejajar dengan tokoh terkenal lainnya.

Pada tahun 1933, saat berumur 26 tahun, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayah nya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.
Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop pada salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis.

Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai--yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur--memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain "Merdeka atau mati!". Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ide Soekarno itu menggambarkan seseorang yang dirantai tapi rantainya sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Kata-kata yang dituliskan di poster itu ("Bung, ayo bung") merupakan usulan dari penyair Chairil Anwar. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India, Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.

Topik yang diangkat Affandi adalah tentang perikebinatangan, bukan perikemanusiaan dan dianggap sebagai lelucon pada waktu itu. Affandi merupakan seorang pelukis rendah hati yang masih dekat dengan flora, fauna, dan lingkungan walau hidup di era teknologi. Ketika Affandi mempersoalkan 'Perikebinatangan' tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.
Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai 'kebudayaan imperialis'. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.
Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: "Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!" kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokrasana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, Aliran apa itu?.
Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.
Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.

Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis, ucapnya.
Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.

Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.
Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual.

Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.
Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 99), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 99), "Tidak Adil" (Juni 99), "Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya" (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.

Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.
Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.

Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul "Kepada Pelukis Affandi".
Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brasil, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah memburu lukisan Affandi sampai ke Rio de Janeiro.

Penghargaan:
  • Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969
  • Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974
  • Dag Hammarskjöld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997)
  • Bintang Jasa Utama, tahun 1978
  • Julukan Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune
  • Gelar Grand Maestro di Florence, Italia
Pameran:

  • Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966)
  • East-West Center (Honolulu, 1988)
  • Festival of Indonesia (AS, 1990-1992)
  • Gate Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993)
  • Singapore Art Museum (1994)
  • Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)
  • Indonesia-Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo, 1997)
  • ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)
  • Pameran keliling di berbagai kota di India.
  • Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma
  • Pameran di benua Amerika al: Brazilia, Venezia, São Paulo, Amerika Serikat
  • Pameran di Australia


Sumber: Wikipedia


>> MENGENAL CAMPURAN WARNA

Warna memiliki jumlah yang tak terbatas, setiap warna memiliki tingkat nada yang berbeda meskipun masih dalam satu nada warna, sebagai salah satu contoh warna Biru, mulai dari tingkatan biru muda hingga biru tua, definisi tingkatan nada warnanya memiliki banyak sekali tingkatan, tergantung berapa tingkatan pencampuran warna yang kita inginkan, idealnya antara warna paling muda hingga warna tua memiliki 10 tingkatan warna.



Kategori warna  warna primer atau juga disebut warna dasar, mengapa disebut warna dasar, karena hampir semua hasil warna pencampuran awalnya dari warna primer ini, yaitu warna Merah, Biru dan Kuning.



Kategori warna skunder adalah warna hasil dari pencampuran warna primer, sebagai contoh:
 warna merah + biru = ungu
warna kuning + biru = hijau
warna kuning +merah = Orange



Kategori warna tersier adalah warna hasil dari pencampuran antara warna primer dan warna sekunder, dan masih banyak lagi hasil warna jika terus di eksplore hingga tak terbatas, contoh warna tersier.




Penulis: Heno Airlangga


3.06.2015

>> CARA MELUKIS IKAN ARWANA DENGAN KUALITAS KARYA SENI TINGGI


Berikut langkah demi langkah cara melukis ikan Arwana, mulai dari sketsa hingga  menjadi sebuah karya seni tinggi, semoga memberikan inspirasi untuk siapa saja yang memiliki hobi melukis, atau ingin menjadi seorang pelukis profesional, tahap demi tahap cara melukis sepasang ikan Arwana oleh Pelukis master Heno Airlangga


Tahap 1

Tahap 2


Tahap 3


Tahap 4


Tahap 5


Tahap 6


Tahap 7


Finish



>> BIOGRAFI PELUKIS BASUKI ABDULLAH


Basoeki Abdullah lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal  25 Januari 1915,  meninggal  pada tanggal 5 November  1993 dalam umur 78 tahun, beliau merupakan salah satu pelukis maestro yang dimiliki Indonesia.Beliau dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis dengan gaya sapuan kuas Brush stroke. Beliau pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta oleh Presiden Soekarno, karya-karya nya menghiasi Istana Negara dan Istana kepresidenan Indonesia, karyanya juga dikoleksi oleh Kolektor - kolektor seni dari berbagai Negara.

Bakat melukis Basoeki Abdullah mewarisi dari ayahnya  Abdullah Suryo Subroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.

Pendidikan formal Basoeki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda. Dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Pada masa Pedudukan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan “ Poetra “ ( Pusat Tenaga Rakyat ) yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki  Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Diantara murid-muridnya adalah  Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam “ Keimin Bunka Sidhosjo “ (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.

Di masa revolusi, Basoeki Abdullah tidak berada di tanah air, sampai sekarang belum jelas apa yang melatar belakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Amsterdam - Belanda, sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang, sejak itu pula Dunia mulai mengenal Basoeki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basoeki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis kelas Dunia.

Pada masa itu, Basoeki Abdullah dikenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, beliau juga melukis pemandangan alam, flora dan fauna, tema-tema perjuangan, pembangunan, dll.

Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok - Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang pernah disinggahi untuk pameran karya lukisanya. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand, dan sejak tahun 1974 Basoeki Abdullah menetap di Jakarta, diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka.

Pada tahun 1998 rumah di Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat Jakarta Selatan di serahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan . Direktorat Permuseuman. Bangunan rumah dua tingkat seluas +- 600 m2 dan luas tanah +- 450 m2. Rumah ini kemudian direnovasi untuk difungsikan sebagai museum. Pada tanggal 25 September 2001 Museum Basoeki Abdullah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Drs. I Gede Ardika.

Koleksi Museum Basoeki Abdullah terdiri dari koleksi lukisan dan koleksi pribadi pelukis Basoeki Abdullah berupa patung, topeng, wayang, senjata dan sebagainya. Jumlah koleksi museum yang dihibahkan berdasarkan data yang ada sebanyak 123 buah, sedangkan koleksi pribadi ( barang dan benda seni ) milik Basoeki Abdullah sebanyak 720 buah, dan buku-buku, majalah sekitar 3000 buah.

Museum Basoeki Abdullah melayani masyarakat dengan menggelar pameran, seminar, penelitian dan workshop, serta menerbitkan bermacam bentuk publikasi berupa katalog, biografi, kumpulan artikel, dan hasil penelitian dan dari serangkaian kegiatan lain.

>> Lukisan original karya Basuki Abdullah

3.05.2015

>> STEP BY STEP, CARA MELUKIS KEPALA HARIMAU BERSAMA PELUKIS MASTER


Melukis adalah salah satu hobi yang mengasyikan, apalagi jika hobi ini ditekuni dengan sungguh-sungguh, disamping menyenangkan juga akan mendatang pemasukan financial.

Bakat melukis, tidak setiap orang memilikinya, namun setiap orang bisa belajar bagaimana caranya melukis, mulai dari gambar sketsa sederhana hingga lukisan karya seni, berikut proses melukis kepala Harimau, step by step oleh Pelukis Master  Heno Airlangga.


Step 1


Step 2


Step 3


Step 4


Step 5


Step 7


Step 8


Step 9


Finish


>> DAFTAR LUKISAN MASTERPIECE KARYA VINCENT VAN GOGH

Vincent van Gogh pelukis meatro Dunia asal Belanda, semasa hidupnya ia habiskan untuk berkarya membuat lukisan, karya - karya nya telah dikoleksi para kolekstor dan museum seni diberbagai belahan Dunia. Van Gogh yang semasa hidupnya dalam kesederhanaan dan kemiskinan tidak pernah menyerah untuk selalu berkarya, kemanapun ia pergi, tidak lupa selalu membawa canvas dan cat untuk melukis alam dan lingkungan sekitar secara langsung, lukisanya bergaya unik dengan cat tebal bertekstur, para pengamat seni mengatakan bahwa gaya lukisan Van Gogh adalah tonggak lahirnya karya seni modern, dimana pada saat itu aliran lukisan masih berpatokan pada karya seni klasik.

Vincent Van Gogh meninggal dunia pada masa produktif di usia 37 Tahun, tertembak dalam sebuah insiden ketidak sengajaan yang melibatkan anak - anak.
Vvincent van Gogh sangat produktif, ia telah menghasilkan lebih dari 2100 lukisan, yang terdiri dari 860 lukisan cat minyak, lebih dari 1300 lukisan cat air, gambar dan sketsa.  Berikut daftar lukisan masterpiece karya Van Gogh, lukisan kategori masterpiece adalah karya lukisan terbaik dari sang Pelukis.

Author By Heno Airlangga



" The Starry Night. Saint-Rémy " by Van Gogh



" Irises " by Van Gogh



" Cypress and wheatfield frank wuts " by Van Gogh



" Cafe Terrace at night " by Van Gogh



 " Child with orange " by Van Gogh



" Imperial Crown Fritillaria in a Copper Vase " by Van Gogh



" Larlesienne Madame Ginoux with Books " by Van Gogh



" Majolica Jar with Branches of Oleander " by Van Gogh



" Portrait of Dr. Gachet " by Van Gogh



" Self portrait with a Pipe " by Van Gogh



" Self-portrait " by Van Gogh



" Self-Portrait in Grey Felt Hat " by Van Gogh



" Twelve Sunflowers in a Vase " by Van Gogh