7.29.2016

>> SUDUT PANDANG BASUKI ABDULLAH DALAM LUKISAN " KAKAK DAN ADIK "

Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul “Kakak dan Adik” merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yang jernih tetapi matanya menatap kosong. Apabila dengan pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstur ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan.

" Kakak dan Adik " karya Basuki Abdullah, 65cm x 79 cm, oil on canvas, 1971

Namun demikian, spirit keharuan kemanusian dalam lukisan ini tetap dalam bingkai Romantisisime. Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebagai idealisasi dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman  realitas kemanusiaan yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari berbagai mitologi, sosok-sosok tubuh yang telanjang, sosok binatang, potret-potret orang terkenal, ataupun hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.

Berkaitan dengan konsep estetik tersebut, Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari S. Sudjojono. Lukisan Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia sedang menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit, kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda, sehingga melahirkan cara pandang/pengungkapan yang berlainan. Dalam kenyataannya estetika Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar. Hal itu terbukti dari berbagai penghargaan yang diperoleh, juga didukung dari masyarakat bawah sampai kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis menembus berbagai masa.
(referensi)

>> MAKNA LUKISAN BERJUDUL KAPAL DILANDA BADAI KARYA RADEN SALEH

Lukisan Raden Saleh yang berjudul “Kapal Dilanda Badai” ini merupakan ungkapan khas karya yang beraliran Romantisisme. Dalam aliran ini seniman sebenarnya ingin mengungkapkan gejolak jiwanya yang terombang-ambing antara keinginan menghayati dan menyatakan dunia (imajinasi) ideal dan dunia nyata yang rumit dan terpecah- pecah. Dari petualangan penghayatan itu, seniman cenderung mengungkapkan hal-hal yang dramatis, emosional, misterus, dan imajiner. Namun demikian, para seniman Romantisisme sering juga berkarya berdasarkan pada kenyataan aktual.

" Kapal Dilanda Badai " karya Raden Saleh, 97cm x 74 cm, oil on canvas, 1837

Dalam lukisan “Kapal Dilanda Badai” ini, dapat dilihat bagaimana Raden Saleh mengungkapkan perjuangan yang dramatis, yakni dua buah kapal dalam hempasan badai dahsyat di tengah lautan. Suasana tampak lebih menekan oleh kegelapan awan tebal dan terkaman ombak-ombak tinggi yang menghancurkan salah satu kapal. Dari sudut atas, secercah sinar matahari yang memantul ke arah gulungan ombak, hal ini lebih memberi tekanan suasana yang dramatis.

Walaupun Raden Saleh berada dalam bingkai Romantisisme, namun tema-tema karya lukisannya bervariasi, dramatis, dan mempunyai elan vital yang tinggi. Karya-karya Raden Saleh tidak hanya terbatas pada pemandangan alam, tetapi juga kehidupan manusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi. Sebagai contoh, lukisan “Een Boschbrand” (Kebakaran Hutan). “Een Overstrooming op Java” (Banjir di Jawa), “Een Jagt op Java” (Berburu di Jawa). “Gevangenneming van Diponegoro” (Penangkapan Diponegoro). Meskipun demikian, Raden Saleh belum sadar (sepenuhnya) berjuang menciptakan seni lukis Indonesia, tetapi dorongan hidup yang diungkapkan tema-temanya sangat inspiratif bagi seluruh lapisan masyarakat, lebih-lebih kaum terpelajar pribumi yang sedang bangkit nasionalismenya.

Noto Soeroto dalam tulisannya “Bij het 100ste Geboortejaar van Raden Saleh” (Peringatan ke-100 tahun kelahiran Raden Saleh), tahun 1913, mengungkapkan bahwa dalam masa kebangkitan nasional, orang Jawa didorong untuk mengerahkan kemampuannya sendiri. Akan tetapi, titik terang dalam bidang kebudayaan (kesenian) tidak banyak dijumpai. Untuk itu, kebersihan Raden Saleh diharapkan dapat membangkitkan perhatian orang Jawa pada kesenian nasional.
(referensi)

>> PESAN FILOSOFI KEHIDUPAN DARI AFFANDI DALAM LUKISAN " PENGEMIS "

Lukisan Affandi yang menampilkan sosok “Pengemis” (1974) ini merupakan manifestasi pencapaian gaya pribadinya yang kuat. Lewat Ekspresionisme, ia luluh dengan objek-objeknya bersama dengan empati yang tumbuh lewat proses pengamatan dan pendalaman. Setelah empati itu menjadi energi yang masak, maka terjadilah proses penuangan dalam lukisan seperti letupan gunung menuntaskan gejolak lavanya.

Dalam setiap ekspresi, selain garis-garis lukisannya memunculkan energi yang meluap juga merekam penghayatan keharuan dunia batinnya. Dalam lukisan ini terlihat sesosok tubuh renta pengemis yang duduk menunggu pemberian santunan dari orang yang lewat. Penggambaran tubuh renta lewat sulur- sulur garis yang mengalir, menekankan ekspresi penderitaan pengemis itu. Warna coklat hitam yang membangun sosok tubuh, serta aksentuasi warnawarna kuning kehijauan sebagai latar belakang semakin mempertajam suasana muram yang terbangun dalam ekspresi keseluruhan.

" Pengemis " karya Affandi, 99cm x 129 cm, oil on canvas, 1974

Namun dibalik kemuraman itu, vitalitas hidup yang kuat tetap dapat dibaca lewat goresan-goreasnyang menggambarkan gerak sebagaian figur lain. Dalam konfigurasi objek-objek ini, terjadilah komposisi yang dinamis. Dinamika itu juga diperkaya dengan goresan spontan dan efek tekstural kasar dari ‘plototan’tube cat yang menghasilkan kekuatan ekspresi.

Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat bawah. Affandi adalah penghayat yang mudah terharu, sekaligus petualang hidup yang penuh vitalitas. Objek-objek rongsok dan jelata selalu menggugah empatinya. Namun selain itu, berbagai fenomena kehidupan yang dinamis juga terus menggugah kepekaaan estetiknya. Oleh karena itu, ia sering disebut sebagai seorang humanis dalam karya seninya.

Dalam berbagai penyataan dan lukisannya, ia sering mengungkapkan bahwa matahari, tangan, dan kaki merupakan simbol kehidupan. Matahari merupakan manifestasi dari semangat hidup. Tangan menunjukkan sikap yang keras dalam berkarya, dan merealisasi segala idenya. Kaki merupakan ungkapan simbolik dari motivasi untuk terus melangkah maju dalam menjalani kehidupan. Simbol-simbol itu memang merupakan kristalisasi pengalaman dan sikap hidup Affandi, maupun proses perjalanan keseniannya yang keras dan panjang. Lewat sosok pengemis dalam lukisan ini, kristalisasi pengalaman hidup yang keras dan empati terhadap penderitaan itu dapat terbaca.
(referensi)

>> LUKISAN UNIK PENUH MAKNA " DEMIT 2000 " KARYA DJOKO PEKIK

Karya “Demit 2000” (2001) ini menggambarkan seorang figur penguasa sedang mengungkapkan ekspresi murkanya. Dengan mulut menganga, mata melotot, figur ini lebih menyerupai setan yang berbicara. Pada latar belakang berjajar para anak buah duduk dalam kebekuan dan kepatuhan. Dengan deformsi sebagai tokoh raksasa dalam wayang dan warna yang kontras menyala, karya ini mewakili gaya personal Djoko Pekik sejak masa pematangannya di Sanggar Bumi Tarung.

" Demit 2000 " karya Djoko Pekik, 65cm x 75 cm, oil on canvas, 2001

Pekik merupakan salah seorang pelukis Sanggar Bumi Tarung yang mengembangkan visi estetik kerakyatan revolusioner pada tahun 1960-an. Pandangan ini menempatkan rakyat berhadapan dengan para imperialis dan kapitalis-penindas, serta para kompradornya, fenomena itu selalu ada di sepanjang sejarah republik ini, dari masa kemerdekaan sampai masa reformasi.

Lukisan ini secara simbolik menggambarkan sifat kekuasaan yang kasar dengan dukungan jajaran kepatuhan. Representasi kerasnya kekuasaan tersirat dari figur penguasa yang berwajah sangar demit (setan).
(referensi)

>> SOSOK GARUDA DALAM IMAJINASI PELUKIS ABBAS ALIBASYAH

Dalam lukisan berjudul “Garuda”, penerapan pola dasar geometrik untuk mengabstraksikan bentuk burung sangat dominan. Menjadi unik karena deformasi bentuk garuda telah sedemikian jauh, sehingga yang lebih penting adalah ekspresi berbagai unsur visual yang ada.

" Garuda " oleh Abbas Alibasyah, cat minyak diatas canvas, 100 x 66cm, 1969

Warna merah dengan gradasi ke arah violet dan oranye memberi kekuatan sebagai latar belakang yang ekspresif. Bentuk burung muncul lewat konstruksi serpihan bidang dengan warna kuning dan hijau, diikat dengan tekstur dan goresan kasar yang mencitrakan nafas primitif.

Lukisan ini juga seperti karya-karya Abbas dalam periode itu, yang dipengaruhi oleh sumber-sumber visual dari berbagai patung etnis Nusantara. Sikap estetis Abbas tersebut, merupakan perwujudan yang kongkrit dalam proses pergulatan mempertahankan nilai-nilai indegeneous dalam terpaan gelombang budaya Barat yang terbungkus dalam euforia modernisme masa itu.
(referensi)

7.21.2016

>> 10 MAHAKARYA KARYA SENI DARI KERANGKA DAN TENGKORAK MANUSIA

Buku The Emipre of  Death karya Paul Koudounaris (Thames & Hudson, 2011) menguraikan keberadaan jasad-jasad manusia di sejumlah tempat ibadah Abad Pertengahan, seakan sebagai cara berdialog dengan mereka yang sudah meninggal.

Dengan pengertian tentang dialog tersebut, sejumlah gereja dan biara di Eropa bahkan menjadikan tulang belulang manusia sebagai mahakarya yang mendapat tempat istimewa.

Dikutip dari Listserve.com pada Kamis (14/7/2016), berikut ini adalah 10 tempat di Eropa yang menjadi tempat istirahat istimewa bagi mereka yang sudah meninggal:

1. Pembantaian

Dalam Kapel Makam di Katedral Otranto, Italia, tengkorak para korban pembantaian 1840 diletakkan di atas altar tinggi dan diapit oleh tongkat lilin terbuat dari emas.

Korban yang paling terkenal adalah Antonio Primaldo, seorang yang pertama kehilangan kepalanya karena dipancung oleh pasukan pendudukan Turki. Tubuhnya terempas ke tanah dalam keadaan tegak tanpa kepala. Bahkan kekuatan seekor kerbau pun tidak bisa memindahkannya.

Tubuh tak berkepala itu tetap tegak hingga korban terakhir dibunuh.


2. San Martino

Kapel Makam di San Martino Della Battaglia di Italia merupakan rumah tulang belulang yang paling rapi. Baris demi baris, kolom demi kolom, kerangka manusia teratur seakan seperti buku-buku dalam perpustakaan. Secara keseluruhan, ada 2.619 korban walaupuan hanya ada 1.274 tengkorak.


3. Pemakaman St Hilaire

Walaupun bukan termasuk yang paling mewah dalam daftar, pemakaman St Hilaire di Marville, Prancis, tampak indah justru karena kesederhanaannya. Uniknya, tengkorak-tengkorak disimpan dalam kabinet-kabinet kecil dengan ukiran-ukiran nisan.


4. Kapel Tulang Belulang

Kapel Tulang Belulang menjadi bagian dari Gereja Nossa Senhora do Carmo di Faro, Portugal. Dinding-dinding dan langit-langitnya tersusun dari tulang belulang para biarawan anggota ordo Carmel. Lantai jalur masuknya pun terbuat dari nisan orang-orang penting sebelumnya.


5. Tengkorak Berhias

Tengkorak-tengkorak dalam Kapel St Michael di Hallstatt, Austria, terkenal karena adanya tulisan-tulisan dengan cat.

Hampir semua tengkorak berasal dari para lelaki yang meninggal mendahului istrinya dan kemudian tengkorak mereka dihias oleh para pasangan yang ditinggalkan. Sayangnya tulang belulang para istri diurusi oleh anak-anak yang tidak terlalu peduli, sehingga tetap tanpa hiasan.


6. Pemakaman Sedlec

Pemakaman Sedlec (Pemakaman Semua Orang Kudus) di Republik Ceko adalah salah satu rumah tulang belulang paling terkenal di dunia.

Tulang belulang bukan sekedar diletakkan, tapi bahkan menjadi bagian dekorasi. Salah satu yang paling dikenal adalah tongkat lilin yang seluruhnya terbuat dari tulang belulang manusia seperti tampak di kiri atas foto.


7. Perawan

Seorang wanita yang mengering dapat ditemukan di Kapel Para Perawan dalam ruang bawah tanah Biara Santa Maria Della Pace di Palermo, Italia.

Ia adalah salah satu jasad perawan yang ditempatkan sedang menggenggam ranting daun palem sebagai lambang kemenangan.


8. Vincenzo Piccini

Vincenzo Piccini adalah satu-satunya mumi yang dipasangkan pakaian di Chiesa Dei Morti, bagian dari Biara Buona Morte di Urbania, Italia.

Ia dipakaikan jubah ordo keagamaan yang pernah diikutinya dan mengenakan lencana kematian dari bahan perak.


9. St Pancratius

Tulang belulang St Pancratius ditemukan dalam Gereja St Niklaus di Wil, Swiss. Dulunya, ia dipasangkan baju oleh para biarawati pada akhir 1600-an.

Tapi, pada 1777, bagian-bagian kerangkanya yang lain tiba di Wil sehingga ia kemudian dipasangkan baju zirah.


10. St Gratianus

St Gratianus dihiasi dengan banyak permata dan kain halus yang selayaknya bagi seorang martir. Ia diketahui wafat karena imannya karena tulang belulangnya tegak di atas sebuah cawan berisi darahnya yang telah mengering. Jasadnya diperagakan dalam Basilika Waldsassen di Jerman.
(referensi)

>> TERUNGKAP SATU LAGI LUKISAN KARYA VINCENT VAN GOGH

Van Gogh Museum di Amsterdam telah mengindentifikasi lukisan baru karya pelukis asal Belanda tersebut. Pihak museum mengatakan dalam lukisan yang diberi judul "Sunset at Montmajour'' terdapat pohon, semak-semak, dan langit dengan gaya goresan khas Vincent van Gogh.

Lukisan ini dibuat dalam periode penting van Gogh saat menetap di Arles, Perancis selatan. Museum Van Gogh mengatakan mereka bisa menentukan kapan "Sunset Montmajour" dilukis karena karya ini disinggung van Gogh dalam surat ke saudaranya, Theo, pada Juli 1888.

Para pakar di Museum Van Gogh mengatakan lukisan ini diverifikasi antara lain melalui gaya dan material fisik yang dipakai, dan juga mereka telah melakukan penelusuran sejarah. Selama ini "Sunset at Montmajour'' berada di tangan kolektor pribadi dan dibawa ke museum di Amsterdam dua tahun lalu untuk diverifikasi.

Menurut kantor berita Associated Press, museum tidak menjelaskan secara rinci bagaimana "Sunset at Montmajour" ditemukan, tetapi disebutkan dimiliki warga Norwegia yang mengira ini bukan karya asli van Gogh. Direktur Museum Van Gogh, Axel Rueger, mengatakan, pihaknya sempat menyatakan pada 1990-an bahwa lukisan ini bukan karya van Gogh karena tidak ada tangan dalam lukisan tersebut.

Namun, teknik penelitian baru dan investigasi selama dua tahun membuat mereka yakin bahwa "Sunset at Montmajour" adalah benar-benar dilukis oleh van Gogh.