Saturday, September 24, 2011

>> PELUKIS MAESTRO ASING, YANG PERNAH MENETAP DI INDONESIA


1. Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres (1880 - 1958 )


Lahir di Brusel, 9 Februari 1880 – meninggal di Ixelles, 31 Mei 1958 pada umur 78 tahun, ialah seorang pelukis dari Belgia. Ia tiba di Singaraja, Bali dengan perahu pada tahun 1932. Lalu ia menetap di Denpasar.
Le Mayeur menyewa sebuah rumah di banjar Kelandis, Denpasar, tempatnya berkenalan dengan penari legong Ni Nyoman Pollok yang berusia 15 tahun, yang kemudian menjadi model lukisannya.

Sejumlah karya Le Mayeur yang menggunakan Ni Pollok sebagai model dipamerkan di Singapura untuk pertama kalinya pada tahun 1933, yang kemudian sukses dan ia pun terkenal. Kembali dari Singapore, Le Mayeur membeli sepetak tanah di Pantai Sanur dan membangun rumah. Di rumah yang menjadi studio ini, Ni Pollok bekerja tiap hari sebagai model bersama 2 sahabatnya. Kecantikan dan kepribadian Ni Pollok membuat Le Mayeur menikmati rumah barunya di Bali. Awalnya, ia hanya akan tinggal selama 8 bulan, namun kemudian ia memutuskan untuk tinggal di pulau itu sampai akhir hayatnya.
Setelah 3 tahun bekerja bersama, pada tahun 1935, Le Mayeur dan Ni Pollok menikah. Sepanjang kehidupan pernikahannya, Le Mayeur tetap melukis dengan menggunakan istrinya sebagai model.

Pada tahun 1956, Bahder Djohan, Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia saat itu mengunjungi Le Mayeur dan Ni Pollok di rumahnya. Bahder begitu terpesona dengan karya pelukis itu dan kemudian mengusulkan kepada pasangan itu untuk melestarikan rumah mereka dan seisinya sebagai museum. Le Mayeur menyetujui gagasan itu dan sejak itu ia bekerja lebih keras untuk menambah banyak koleksi rumah itu dan menambah kualitas karyanya juga.

Akhirnya, impian Le Mayeur menjadi kenyataan ketika pada tanggal 28 Agustus 1957, sebuah testamen ditandatangani, yang isinya adalah bahwa Le Mayeur mewariskan semua miliknya termasuk tanah, rumah, dan seisinya kepada Ni Pollok sebagai hadiah. Di saat yang sama, Ni Pollok kemudian memindahkan semua yang diwarisi dari suaminya kepada Pemerintah Indonesia untuk digunakan sebagai museum.

Pada tahun 1958, Le Mayeur menderita kanker telinga parah, dan ditemani oleh Ni Pollok ia kembali ke Belgia untuk menerima perawatan medis. Setelah 2 bulan di sana, akhirnya Le Mayeur meninggal dunia dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Ixelles/Elsene, Brusel. Ni Pollok kemudian pulang kampung untuk merawat rumahnya yang menjadi museum hingga kematiannya pada tanggal 18 Juli 1985 dalam usia 68 tahun.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Adrien-Jean_Le_Mayeur
Link



2. Walter Spies (1895 - 1942 )

Lahir di Moskwa, 15 September 1895 – meninggal di Samudera Hindia, 19 Januari 1942 pada umur 46 tahun, merupakan pelukis, perupa, dan juga pemusik. Ia adalah tokoh di belakang modernisasi seni di Jawa dan Bali.
Spies lahir sebagai anak seorang peniaga kaya Jerman yang telah lama menetap di Moskwa. Semenjak muda ia telah menggemari seni musik, seni lukis, dan seni rupa. Ia mengenal Rachmaninov dan mengagumi Gauguin.

Selepas Perang Dunia I, Spies sempat tinggal beberapa lama di Jerman (di Berlin) dan berteman dengan sutradara ternama masa itu, Friedrich Murnau. Kelak, Murnau-lah yang banyak membantu Spies secara finansial di perantauan. Di Jerman ia sudah cukup ternama karena lukisan-lukisannya, namun ia merasa tidak kerasan karena sebagai homoseksual ia selalu dicari-cari polisi.

Pada tahun 1923 ia datang ke Jawa dan menetap pertama kali di Yogyakarta. Dia dipekerjakan oleh sultan Yogya sebagai pianis istana dan diminta membantu kegiatan seni keraton. Spies-lah yang pertama kali memperkenalkan notasi angka bagi gamelan di keraton Yogyakarta. Notasi ini kemudian dikembangkan di kraton-kraton lain dan digunakan hingga sekarang.

Setelah kontraknya selesai, ia lalu pindah ke Ubud, Bali, pada tahun 1927. Di sinilah ia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga menjelang kematiannya. Di bawah perlindungan raja Ubud masa itu, Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan apa yang dikenal sebagai gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.

Sering kali dikatakan bahwa ia adalah orang yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Ia memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang ternama di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu. Di bulan Desember 1938 Spies sempat dipenjara karena dituduh homoseksual. Ia baru dibebaskan karena bantuan beberapa temannya, di antaranya Margaret Mead, pada September 1939.

Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib buruk. Sebagai orang Jerman, ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Ia meninggal 19 Januari 1942 karena tenggelam bersama-sama dengan kapal 'Van Imhoff' yang ditumpanginya, akibat dibom armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di perairan barat Sumatera Utara. Kapal yang seharusnya berlayar ke Srilanka itu mengangkut orang-orang Jerman yang diusir dari Hindia Belanda akibat serangan Jerman ke Belanda.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Walter_Spies



3. Antonio Maria Blanco (1912 - 1999)

Lahir di Manila, Filipina, 15 September 1912 – meninggal di Bali, Indonesia, 10 Desember 1999 pada umur 87 tahun, adalah seorang pelukis keturunan Spanyol dan Amerika. Antonio lahir di distrik Ermita di Manila, Filipina. Ia pada mulanya hidup dan bekerja di Florida dan California, Amerika Serikat, hingga pada suatu waktu hatinya tertarik untuk mengeksplorasi pulau-pulau di Samudra Pasifik sebagai sumber inspirasinya seperti pelukis Paul Gauguin, José Miguel Covarrubias dan yang lainnya sebelum dirinya. Ia berencana untuk pergi ke Tahiti, tapi nasib membawanya ke Hawaii, Jepang dan Kamboja, dimana ia menjadi tamu kehormatan Pangeran Norodom Sihanouk.

Dari Cambodia ia kemudian pergi ke Bali pada tahun 1952 dan menikahi seorang wanita model lukisannya dan seorang penari tradisional Bali bernama Ni Ronji pada tahun 1953. Bali memberikan Antonio elemen penting yang ia butuhkan untuk membangun hasrat seninya yang jenius: pemandangan yang indah, suasana lingkungan yang seperti impian, dan keberadaan seni dan cinta yang luar biasa.

Semenjak saat itu, Antonio tidak pernah meninggalkan mimpinya dan mulai mewujudkan mimpinya itu dalam hidup dan karya-karyanya. Ia membangun sebuah rumah tinggal plus museum di Ubud yang menjadi tempat istirahatnya yang penuh keajaiban. Bangunan tersebut dibangun berdasarkan citra dan kesukaannya dimana Antonio menjadi sangat betah tinggal di dalamnya dan sangat jarang keluar.

Tanah tempat dibangunnya tempat tinggal Antonio tersebut adalah tanah pemberian Raja Ubud dari Puri Saren Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati.
Orang tidak akan bisa membicarakan Antonio Blanco tanpa berbicara mengenai wanita sebab wanita adalah fokus dari karya-karya lukisnya. Bisa dikatakan bahwa Antonio adalah seorang pelukis feminin abadi. Ia merupakan seorang maestro lukisan romantik-ekspresif.

Sepanjang kariernya, Antonio menerima berbagai penghargaan, termasuk diantaranya Tiffany Fellowship (penghargaan khusus dari The Society of Honolulu Artists), Chevalier du Sahametrai dari Cambodia, Society of Painters of Fine Art Quality dari Presiden Soekarno dan Prize of the Art Critique di Spanyol. Antonio juga menerima penghargaan Cruz de Caballero dari Raja Spanyol Juan Carlos I yang memberikannya hal untuk menyandang gelar "Don" di depan namanya.

Banyak kolektor yang menghargai karya-karya lukisnya, seperti aktris Ingrid Bergman, ratu telenovela Mexico Thalía (Ariadna Thalía Sodi Miranda), Soekarno (Presiden pertama Indonesia), Soeharto (Presiden kedua Indonesia), mantan Wakil Presiden Indonesia Adam Malik, Pangeran Norodom Sihanouk, Michael Jackson (penyanyi yang dijuluki Raja Pop Dunia yang sempat membubuhkan tanda-tangannya pada sebuah lukisan sebagai sebuah donasi untuk Children of the World Foundation), dan masih banyak lagi.

Keinginan Antonio untuk suatu hari nanti memiliki museum akhirnya mulai terwujud juga dan diberi nama The Blanco Renaissance Museum. Museum yang mulai dibangun pada 28 Desember 1998 di lingkungan kediamannya yang asri itu kini berdiri megah, menyimpan lebih dari 300 karya Antonio dan secara kronologis memperlihatkan pencapaian estetik dari Antonio muda hingga yang paling mutakhir. Secara arsitektural, bangunan museum yang berkesan rococo itu juga menawarkan filosofi dan kearifan Bali.

Don Antonio Maria Blanco meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 1999 di Denpasar, Bali, akibat penyakit jantung dan ginjal yang dideritanya. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak: Cempaka, Mario, Orchid dan Mahadewi. Semenjak Antonio telah menjadi penganut Hindu, upacara persiapan kremasi ala Bali untuknya diadakan di sebuah rumah peristirahatan jenazah di Campuhan, Ubud, yang diikuti dengan rentetan upacara lainnya semenjak tanggal 23 Desember 1999. Peristiwa pembakaran mayatnya sendiri (Ngaben) baru terjadi pada tanggal 28 Desember 1999.

LinkSumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Antonio_Blanco



4. Lee Man Fong (1913-1988)

adalah seorang pelukis Indonesia yang dilahirkan di Tiongkok. Ia dibesarkan dan mendapatkan pendidikannya di Singapura. Di sana ia belajar melukis dengan seorang pelukis Lingnan, dan belakangan dengan seorang guru yang mengajarkannya lukisan minyak. Pada tahun 1933 ia pergi ke Indonesia dan tinggal di sana selama 33 tahun. Pada masa Perang Dunia II ia ditawan Jepang, dan setelah Indonesia merdeka, ia menjadi pelukis istana Presiden Soekarno dan menjadi warga negara Indonesia. Lukisan-lukisan Lee Man Fong diakui sebagai perintis pelukis Asia Tenggara. Pada Tahun 1964 ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk membuat buku yang berjudul "Lukisan-Lukisan dan Patung dari Koleksi Presiden Soekarno dari Republik Indonesia" buku ini berisi seluruh karya-karya seni yang dimiliki Presiden Soekarno dan semuanya berjumlah 5 Volume.

Kumpulan lukisannya diterbitkan dalam buku Lee Man Fong: Oil Paintings, volume I dan II dan diterbitkan oleh museum Art Retreat. Buku ini ditulis oleh kritikus seni Indonesia Agus Dermawan T., sementara seleksi karya dilakukan oleh Siont Tedja. Kedua buku yang keseluruhannya berisi 700 halaman ini berisi 471 lukisan pilihan milik banyak kolektor dari seluruh dunia.

Pada tahun 1966, karena kekacauan politik di Indonesia, Lee Man Fong hijrah ke Singapura dan lama menetap di sana, sehingga ia bahkan dianggap sebagai pelukis Singapura. Tahun 1988 ia meninggal di Puncak, Jawa Barat, karena sakit.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lee_Man_Fong



5. Willem Gerard Hofker (1902 - 1981)


Lahir di Den Haag, Belanda, tanggal 2 Mei 1902, anak dari Gerrit Jan Hofker, pegawai negeri di Pos dan Telkom. Selama beberapa waktu ayah beliau menjadi teman sekerja De Nieuwe Gids dan berteman dengan anggota-anggota Beweging der Tachtigers (Gerakan Delapan puluhan). Beliau memberi nama anaknya dari Willem Witsen.

Willem Hofker awalnya study di Haagse Academie dan kemudian pada usia 14 Tahun, melanjutkan di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten di Amsterdam. Beliau juga dididik oleh Willem Witsen dan Isaac Israel, yang bersahabat baik dengan ayahnya, yang jadi artis amatir dan penulis, anggota yang berkaitan dengan gerakan 'de Beweging van Tachtig'. Tahun 1927 Willem Hofker menang hadiah kedua di Prix de Rome. Tahun 1930 beliau menikahi Maria Rueter, ahli pelukis juga, anak perempuan Georg Rueter, pelukis dan dosen kepala di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten di Amsterdam.

Pada tahun 1920-an, Hofker telah menyelesaikan beberapa pekerjaan monumental-dekoratif, antara lain untuk Koninklijke Nederlandsche Stoomvaart Maatschappij (KNSM), dimana beliau membuat beberapa lukisan dinding untuk kapal-kapal. Dari karya itu hampir tidak ada ketinggalan. Reputasi Hofker sebagai pelukis potret, menerima pesanan tahun 1936 melukis potret ratu Wilhelmina dari Belanda, untuk kantor pusat Koninklijke Pakketvaart Maatschappij (KPM) di Batavia, sekarang Jakarta.

Tahun 1938 suami isteri melakukan perjalanan ke hindia dan teruskan dengan perjalanan diseluruh jajahan Belanda. Pada waktu perjalanan itu mereka membuat gambar-gambar dan lukisan wilayah Indonesia yang memungkinkan direproduksi dan dipakai oleh KPM.

Suami isteri Hofker menetap di Bali, dimana Willem membuat gambar-gambar pemandangan dan penari Bali. Hofker bergaul dengan banyak pelukis, antara lain Walter Spies, Strasser, Le Mayeur dan sahabat baik mereka, Rudolf Bonnet. Tahun 1940 suami isteri pindah ke Ubud. Kebanyakan karya Hofker di Indonesia dibuat dalam periode antara Tahun 1938 - 1944. Karya seni beliau adalah bergaya halus, mengalir, dan juga puitis. Di Bali sebagian besar lukisan beliau bertema kuil dan kehidupan agama di pulau Bali, dan orang-orang Bali.

Waktu Perang Dunia II Hofker dengan temannya Bonnet, dipaksa ikut serta dengan KNIL di Surabaya, kemudian suami dan isteri di internir oleh tentara Jepang di kemah masing-masing pada tahun 1943, Willem sendiri di Tana Toraja, Sulawesi Tengah. Pada zaman ini kebanyakan sketsa Maria Hofker jadi hilang. Pada akhir masa perang, pasangan suami isteri tidak mau ikut serta gerakan Nasionalis Indonesia dan kembali ke Belanda.

Kembali ke Belanda tahun 1946, masa sulit untuk pasangan Hofker ini. Suasana perkembangan seni pada itu telah merubah seluruhnya. Karya figuratif Willem hampir tidak dapat penghargaan dari teman-temanya. Meskipun, pada akhirnya pesanan portret mulai meningkat cepat. Jumlah seluruhnya, Willem Hofker melukis kira-kira 800 potret untuk individu dan organisasi-organisasi, antara lain universitas dan perbankan. Termasuk, pada tahun 1970, potret Herman van den Wall Bake, presdir Algemene Bank Nederland (ABN). Willem Hofker juga ahli dalam melukis pemandangan kota Amsterdam dengan media crayon, dimana beliau fokus pada arsitektur, potret rumah-rumah dan kota-kota. Gambar-gambar Amsterdam ini dikumpulkan dalam tiga buku. Koleksi karya Bali terbit dengan judul 'Bali as seen by Willem Hofker' (1978). Di Belanda Willem Hofker masih melukis dengan tema orang-orang dan pemandangan Bali, dengan media kertas dan canvas.

Selama bagain akhir masa hidupnya, Willem Hofker memberikan banyak andil dalam perkembangan dunia seni lukisan, dengan publikasi karya-karya lukisanya, reputasi beliau meningkat. Saat ini karya pemandangan dan penari Bali beliau sangat dicari. Dan juga secara internasional, karya-karya pada masa Hofker menetap di Bali, menarik banyak perhatian didalam tahun-tahun terakhir masa hidupnya. Willem Hofker berdiam di Zomerdijkstraat,i Amsterdam dari 1934 - 1938 dan dari 1946 - 1967.
Willem Gerard Hofker meninggal dunia di Amsterdam 30 April 1981.

Sumber: http://www.wahrweb.org/_album/hofker/indexid.html




6. Johan Rudolf Bonnet (1895 - 1978)

Lahir di Amsterdam, Belanda, 30 Maret 1895 – meninggal di Laren, Belanda, 18 April 1978 pada umur 83 tahun, beliau adalah seorang pelukis berkebangsaan Belanda yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ubud, Bali sebagai seorang seniman dan pelukis. Dia adalah salah seorang dari banyak pelukis asing yang berkontribusi pada kemajuan seni lukis di Indonesia, khususnya di Bali.

Gambar dan lukisan Bonnet selalu bersifat kiasan dengan wajah-wajah yang sering terlihat "memanjang", menunjukkan pengaruh klasik kuat dan keinginannya untuk mengungkapkan kecantikan dalam karya-karya lukisnya.


Informasi dari berbagai sumber, dikemas dan disajikan oleh JAVADESINDO Art Gallery
Lelang online khusus lukisan maestro


No comments:

Post a Comment